Punya website sendiri itu bold move. Respect.
Tapi kalau nggak ada yang nemu di Google, ya sama aja kayak buka toko di gang kecil yang nggak ada orang lewat.
Masalahnya bukan di websitenya.
Masalahnya di: apakah orang bisa nemuin Anda atau nggak?
Beberapa waktu lalu, saya ngobrol sama seorang pengusaha.
Bukan newbie. Dia udah bisnis dari tahun 2000.
Punya pabrik.
Pernah buka outlet di mall besar.
Udah survive berbagai krisis.
Tapi waktu itu, ekspresinya… drop.
Pandemi bikin semuanya pause.
Pabrik stop. Outlet tutup satu per satu.
Padahal dia punya website dari dulu.
Tapi karena marketplace terasa lebih “instan”, websitenya ditinggal.
Fokus full ke Shopee.
Sampai akhirnya saya tanya:
“Sekarang websitenya gimana?”
Jawabannya:
Udah nggak bisa diakses.
Bayangin.
24 tahun bisnis. Tapi jejak digital? Nol.
Dan waktu dia mau bangkit lagi, masalah baru muncul.
Produk dia bagus.
Tapi di marketplace, kompetitor jual jauh lebih murah, nggak masuk akal.
Dia bilang:
“Saya ngerasa udah nggak bisa bersaing lagi.”
Padahal… pengalaman dia jauh lebih panjang.
Saya cuma tanya satu hal:
“Selama ini Anda punya channel jualan yang nggak tergantung marketplace?”
Jawabannya: nggak.
Dan di situ sebenarnya akar masalahnya.

Ini bukan cerita satu orang.
Sejak integrasi Tokopedia + TikTok Shop, banyak seller mulai ngerasain hal yang sama:
- UI makin ribet
- Ongkir makin dibatasi
- Pencairan dana makin lama
- Sales drop di masa transisi
Dan yang paling kerasa: margin makin kegerus.
Data bahkan nunjukin margin bisa kepotong 20–30% cuma dari fee + promo.
Wajar kalau sekarang banyak yang mulai mikir:
“Kayaknya harus punya website sendiri deh.”
Tapi… habis punya website, terus apa?
Ini yang sering kejadian:
- Website udah jadi
- Produk udah upload
- Design udah oke
Tapi… sepi.
No traffic. No sales.
Dan di sinilah SEO masuk.
Bukan sebagai “tambahan”.
Tapi sebagai engine utama.
Ada satu insight yang sering diremehkan, tapi sebenarnya cukup membuka mata.
Dari analisis lebih dari 130 juta sesi website oleh Wolfgang Digital, yang datanya juga banyak dikutip di laporan Statista, sekitar sepertiga traffic e-commerce ternyata datang dari pencarian organik di Google.
Artinya, dari semua orang yang datang ke website e-commerce, sekitar 1 dari 3 datang bukan dari iklan, bukan dari social media, tapi dari hasil pencarian.
Dan yang menarik, traffic ini tidak berhenti hanya karena Anda menghentikan budget promosi.
Dia terus datang, selama website Anda tetap relevan di Google.
Bukan dari ads.
Bukan dari flash sale.
Dan yang paling penting:
nggak bisa dimatiin sama platform.
Marketplace vs Google (Real Talk)
Di marketplace:
Anda bayar untuk terlihat.
- Ads
- Diskon
- Gratis ongkir
- Flash sale
Begitu budget stop?
Visibility ikut hilang.
Di Google:
Anda build supaya ditemukan.
Kalau website Anda udah ranking:
- Traffic datang terus
- Tanpa bayar per klik
- Tanpa takut aturan berubah
Ini bukan shortcut.
Tapi ini aset.
Kenapa Website Baru Itu Sepi?
Biasanya bukan karena produknya jelek.
Tapi karena 3 hal ini:
1. Google belum kenal Anda
Website baru = belum trusted.
2. Anda nggak target keyword yang tepat
Atau bahkan nggak mikirin keyword sama sekali.
3. Ada problem teknis
- Website lambat
- Mobile berantakan
- Halaman nggak ke-index
Hasilnya?
Google literally nggak ngerti website Anda.
Jadi Harus Mulai dari Mana?
Santai. Nggak perlu semua sekaligus.
Ini urutan yang make sense:
1. Fix technical dulu
Pastikan website Anda bisa “dibaca” Google.
2. Riset keyword
Cari tahu: orang ngetik apa sebelum beli?
3. Optimasi halaman produk
Jangan cuma foto + harga. Itu nggak cukup.
4. Mulai blog
Jawab pertanyaan calon pembeli.
Contoh:
Bukan “jual serum”, tapi
→ “cara pilih serum untuk kulit berminyak”
5. Bangun trust
- Review
- Google Business Profile
- Konsistensi brand
6. Cari backlink
Anggap aja ini “recommendation system”-nya Google.

Selalu Ingat Ini…
Di marketplace:
Reputasi Anda numpang.
Di website sendiri:
Reputasi itu milik Anda.
Kalau marketplace berubah?
Rating Anda bisa ikut hilang.
Kalau website Anda kuat?
Nggak ada yang bisa ngambil.
Big Picture-nya
BPS bilang ada 4,4 juta usaha e-commerce di Indonesia.
Dan itu masih terus naik.
Artinya?
- Kompetisi makin brutal
- Biaya visibility makin mahal
Jadi pertanyaannya simpel:
Anda mau terus “nyewa perhatian”?
Atau mulai bangun aset sendiri?
Karena aset itu…
tetap kerja bahkan saat Anda lagi nggak ngapa-ngapain.
Kalau artikel ini bikin Anda mikir ulang soal cara jualan selama ini, jangan disimpan sendiri.
Share ke teman atau partner bisnis Anda yang masih full bergantung sama marketplace.
Siapa tahu ini jadi turning point mereka juga.
Bookmark website ini sekarang, karena saya akan terus breakdown strategi praktis soal SEO, website, dan growth tanpa teori yang ribet.
Kalau Anda lagi ada di fase:
- baru mau pindah dari marketplace
- atau website sudah ada tapi masih sepi
langsung DM saya di Threads:
👉 https://threads.com/@elizsthink
(please follow dulu ya, biar bisa kirim pesan 🙌)
Kita ngobrol santai aja, saya bantu arahkan next step yang paling make sense buat kondisi Anda sekarang.

