Elizabeth: Content Strategist Indonesia yang Percaya Growth Harus Punya Arah
Banyak bisnis bukan kekurangan konten. Mereka justru kelebihan konten. Tapi hasilnya? Flat. Ramai di permukaan, sepi di conversion.
Saya Elizabeth. Dan itulah masalah yang paling sering saya temukan ketika bekerja dengan bisnis dan individu di Indonesia.
Bukan kurang posting. Bukan kurang strategi. Tapi tidak ada satu benang merah yang menghubungkan semuanya.
Saya Bukan Strategist yang Langsung Kasih Taktik
Kalau Anda pernah baca tulisan saya di Buletin, Beehiiv, LinkedIn, atau Kompasiana, Anda mungkin sadar: saya jarang sekali membagikan checklist atau template siap pakai.
Bukan karena saya tidak mau praktis. Tapi karena saya tahu, taktik tanpa arah itu seperti berlari kencang di tempat yang salah.
Prinsip kerja saya simpel: tidak semua yang bisa dilakukan, perlu dilakukan.
Makanya saya tidak pernah mulai dari “hari ini harus posting apa.” Saya selalu mulai dari tiga pertanyaan yang lebih mendasar:
- Apa yang sebenarnya ingin dibangun?
- Siapa yang ingin dijangkau?
- Bagaimana ingin dikenal?
Kalau ketiga pertanyaan itu sudah terjawab dengan jelas, barulah konten, distribusi, dan personal branding punya tempat berpijak.
Cara Saya Melihat Growth
Sebagai content strategist Indonesia, saya banyak bekerja di area growth, konten, dan positioning. SEO tetap menjadi bagian dari pekerjaan saya, tapi bukan pusat dari segalanya.
Bagi saya, setiap elemen itu saling terhubung:
- Konten adalah cara membentuk persepsi
- Distribusi adalah cara menjangkau orang yang tepat
- Personal branding adalah cara membangun trust
Growth itu hasil dari ketiganya berjalan bersama. Bukan dari masing-masing dioptimalkan secara terpisah.
Dan ini bukan sekadar teori. Menurut laporan Content Marketing Institute (2023), bisnis dengan strategi konten yang terintegrasi menghasilkan tiga kali lebih banyak leads dibanding yang tidak. Tapi integrasi itu hanya bisa terjadi kalau ada arah yang jelas sejak awal.
Pengalaman yang Mengubah Cara Saya Berpikir
Selain di growth dan konten, saya punya exposure yang cukup dalam di bidang HR dan recruitment. Dan ini justru yang banyak membentuk perspektif saya hari ini.
Saya sering melihat proses hiring yang terasa berat dan memakan waktu, lalu berakhir dengan keluhan “talent susah dicari.” Padahal ketika saya telusuri lebih dalam, masalahnya bukan di talent-nya.
Masalahnya: perusahaan itu sendiri belum clear. Butuh siapa, untuk solve problem apa, dan mau dibawa ke mana.
Pattern yang sama persis saya temukan di dunia personal branding Indonesia. Banyak yang aktif posting, konsisten, dan sudah mencoba berbagai format konten. Tapi hasilnya terasa stagnan.
Bukan karena kurang effort. Tapi karena tidak ada arah yang kuat di balik semua aktivitas itu.
Apa yang Saya Tulis di Sini
Blog ini bukan tempat saya mendokumentasikan semua hal yang saya tahu. Saya hanya menulis apa yang benar-benar saya pikirkan dan jalani.
Topik yang sering muncul di sini antara lain:
- Growth yang lebih masuk akal dan sustainable
- Konten yang tidak sekadar ramai, tapi punya pengaruh nyata
- Personal branding yang terasa genuine, bukan hasil performance
- Insight tentang hiring dan talent dari pengalaman langsung
Banyak ide di sini lahir dari tulisan-tulisan pendek di Buletin dan Beehiiv, lalu saya kembangkan sampai ketemu pattern yang bisa dipakai lebih luas.
Tulisan Ini untuk Siapa?
Kalau Anda sedang membangun bisnis atau personal brand dan mulai merasa bahwa sudah banyak yang dikerjakan tapi hasilnya segitu-segitu saja, kemungkinan besar Anda akan menemukan sesuatu yang berguna di sini.
Bukan karena Anda kurang kerja keras. Tapi karena mungkin cara mainnya yang perlu di-upgrade.
Tulisan saya juga cocok untuk Anda yang sedang dalam proses scaling dan mulai butuh arah yang lebih terstruktur, bukan hanya eksekusi yang lebih cepat.
Langkah Praktis: Mulai dari Sini
Kalau ini pertama kali Anda mengunjungi blog ini, berikut cara terbaik untuk memulai:
- Baca dua atau tiga artikel terbaru untuk merasakan sudut pandang yang saya bawa
- Kunjungi halaman Work With Me kalau Anda ingin tahu bagaimana saya bekerja bersama klien
- Follow akun Threads saya di @elizsthink untuk insight yang lebih ringkas dan sering saya bagikan di sana
- Kirim DM kalau Anda ingin diskusi, butuh second opinion, atau sekadar ngobrol soal bisnis
Saya baca semua DM yang masuk. Kadang dari satu obrolan santai, justru muncul insight yang tidak terpikir sebelumnya.
Saya tidak jual shortcut. Tapi saya percaya, kalau arah sudah jelas, setiap keputusan jadi lebih ringan dan growth jadi jauh lebih masuk akal.
Kalau Anda sedang mencari itu, kemungkinan besar kita akan nyambung.
Referensi
- Content Marketing Institute. (2023). B2B Content Marketing Benchmarks, Budgets, and Trends. ContentMarketingInstitute.com
- LinkedIn. (2023). The B2B Marketing Benchmark Report. Business.Linkedin.com
