(Berdasarkan pengalaman saya di travel agent + riset untuk brand kapal)
Saya pernah menulis untuk website travel agent. Polanya jelas: kejar traffic, banyak keyword, dan fokus ke perbandingan.
Ketika saya mulai riset untuk website brand phinisi, saya sadar satu hal yang cukup “menampar”:
👉 Cara menulisnya harus berubah total.
Bukan sekadar beda gaya.
Tapi beda cara memahami market, intent, dan bagaimana orang mengambil keputusan.

Source: Johnny Africe – Unsplash.com
1. Ini Bukan Soal SEO Dulu — Tapi Soal Siapa yang Anda Target
Kalau Anda salah baca market, SEO Anda tetap bisa ranking… tapi tidak akan convert.
Dan ini yang sering terjadi di website phinisi.
A. Website Travel Agent
Saya sudah pernah menulis di model ini, jadi cukup terasa polanya.
Marketnya:
- masih eksplorasi
- bandingkan banyak pilihan
- sensitif harga
- tidak loyal ke brand
Mereka biasanya search:
- “harga sewa phinisi labuan bajo”
- “open trip komodo terbaik”
- “paket sailing komodo murah”
Behavior-nya:
👉 buka banyak tab
👉 scan cepat
👉 ambil keputusan relatif cepat
Di sini, konten harus membantu mereka memilih.
B. Website Brand Phinisi / Yacht
Nah, ini yang awalnya saya kira “sama saja”—ternyata tidak.
Dari riset yang saya lakukan, market ini:
- budget tinggi
- decision lebih lama
- lebih emosional
- sangat sensitif terhadap trust
Dan ini bukan asumsi saja.
Industri yacht charter memang termasuk high-value market dengan nilai transaksi yang bisa mencapai puluhan hingga ratusan ribu dolar per trip, seperti dijelaskan oleh Basecamp Advertising dalam pembahasan marketing yacht.
Di sisi lain, pertumbuhan market ini juga terus naik—diproyeksikan mencapai miliaran dolar dalam beberapa tahun ke depan menurut Yacht Sourcing.
Artinya jelas:
👉 ini bukan market “banyak klik”
👉 ini market “sedikit tapi mahal”
2. Kenapa Format Artikelnya Harus Berbeda?
Ini titik penting yang baru benar-benar terasa setelah saya bandingkan dua jenis website ini.
Travel Agent → Format Komparasi
Karena user masih di fase:
👉 “pilih yang mana ya?”
Maka struktur artikelnya:
- list rekomendasi
- banyak opsi
- harga transparan
- cepat dibaca
Gaya seperti ini cocok untuk menangkap traffic besar.
Brand Phinisi / Yacht: Market High Intent
Sementara di brand phinisi, saya menemukan pola yang berbeda.
Market ini:
- budget tinggi
- decision lebih lama
- sangat mempertimbangkan trust
Ini bukan asumsi.
Laporan industri menunjukkan bahwa pasar yacht charter global diproyeksikan mencapai sekitar USD 13,6 miliar pada 2030, dengan pertumbuhan stabil setiap tahun (Grand View Research, 2023).
Artinya:
👉 sedikit traffic tidak masalah
👉 selama kualitas user tinggi
3. Kenapa Format Artikel Harus Berbeda?
Ini titik yang paling sering disalahpahami.
Travel Agent → Format Komparasi
Karena user masih di fase memilih, maka artikelnya harus:
- list rekomendasi
- banyak opsi
- banyak keyword turunan
- mudah di-scan
Tujuannya:
👉 membantu user memilih
Brand Phinisi → Format Experience
Sementara di brand yacht:
User tidak butuh banyak pilihan.
Mereka butuh:
👉 keyakinan
👉 rasa aman
👉 gambaran experience
Google sendiri menekankan bahwa konten harus benar-benar membantu user dan relevan dengan intent, bukan sekadar generik (Google Search Central, 2022).
Makanya, artikel untuk brand phinisi harus:
- fokus 1 kapal
- storytelling
- immersive
- detail experience
4. Dari Pengalaman Saya: Gaya Menulis Harus Berubah
Waktu menulis untuk travel agent, saya cenderung:
- to the point
- banyak keyword
- minim emosi
Dan itu memang efektif untuk traffic.
Tapi di brand phinisi, pendekatan itu terasa “kering”.
Karena di sini yang dijual bukan:
- itinerary
- harga
Tapi:
👉 pengalaman
👉 suasana
👉 eksklusivitas
Ini juga sejalan dengan insight bahwa brand premium lebih banyak menang lewat emotional connection dibanding sekadar fitur (McKinsey & Company, 2020).
5. Kenapa Opening Harus Langsung Jawab Intent?
Ini bukan teori SEO saja, tapi real behavior.
Dari pengalaman saya:
👉 kalau 3–5 detik pertama tidak “kena”
👉 user langsung balik ke Google
Dan ini berpengaruh ke performa SEO.
User sekarang datang dengan intent yang jelas.
Contoh:
Kalau mereka search:
👉 “private yacht komodo experience”
Mereka tidak mau baca definisi panjang.
Mereka mau:
👉 langsung kebayang experience-nyaa.
6. Struktur Artikel yang Saya Gunakan (Untuk Brand Phinisi)
Setelah trial dan riset, ini struktur yang paling “kerasa efeknya”:
1. Opening
Langsung jawab intent + emotional hook
2. Storytelling Experience
Bukan fitur, tapi rasa
3. Itinerary (dengan hyperlink)
Ini bukan hanya info.
Fungsinya:
- internal linking
- bantu SEO
- bantu conversion
4. Detail Kapal
Soft selling, bukan hard selling
5. Trust Builder
- testimonial
- pengalaman
- kredibilitas
6. CTA di Beberapa Titik
Tidak hanya di akhir.
Karena user bisa siap booking di tengah membaca.
7. Insight Penting yang Baru Saya Sadari
Dulu saya pikir:
👉 traffic adalah segalanya
Tapi di yacht / phinisi brand:
👉 trust jauh lebih penting
Karena satu booking saja bisa bernilai sangat besar.
Selain itu, strategi direct booking juga menjadi fokus utama di industri travel untuk mengurangi ketergantungan pada pihak ketiga, seperti dijelaskan oleh Skift Research dalam analisis strategi booking langsung (Skift, 2021).
8. Jadi Harus Pilih yang Mana?
Dari pengalaman saya:
👉 bukan pilih salah satu
👉 tapi gunakan keduanya dengan fungsi berbeda
- Travel agent style → tarik traffic
- Brand storytelling → convert
Kalau dicampur tanpa strategi, biasanya hasilnya tanggung.
Nah, jika Anda lagi bangun website phinisi atau yacht, saran saya:
👉 jangan mulai dari keyword dulu
👉 mulai dari memahami market dan intent
Kalau Anda mau, saya bisa bantu:
- audit struktur konten Anda
- atau bikin template artikel yang siap ranking + convert
Silakan connect saya di LinkedIn ya, kita bisa bahas lebih dalam.
Dan jangan lupa:
👉 Bookmark website elizabeth.web.id
👉 Pelajari juga panduan dasar SEO supaya fondasinya kuat
Kalau mau, saya juga bisa bantu breakdown langsung untuk website Anda 👍

